Hasil Survei: Jakarta Kota dengan Standar Hidup Paling Mahal di Dunia

Jakarta memiliki populasi lebih dari 10 juta penduduk dan dihuni berbagai lapisan serta golongan masyarakat. Dari pinggiran sungai yang didominasi hunian tak layak hingga gedung-gedung pencakar langit berjajar memagari jalan.



Inilah kota yang dinamis, sekaligus kota yang memiliki standar hidup mahal. Benarkah demikian?

Sebuah survei yang dilakukan Ipsos Business Consulting mampu menjawab pertanyaan di atas. Ternyata, Jakarta tergolong kota dengan standar hidup mahal, bahkan cenderung lebih mahal dari Bangkok, Hong Kong dan New York. Berbanding relatif dengan gaji rata-rata masyarakat Indonesia.

Untuk meneguk secangkir Hot Cappucino Grande Starbucks saja, seseorang harus merogoh kocek sebesar US$2,88 atau setara dengan Rp34 ribu. Ini memang lebih murah dari standar harga di Hong Kong yakni US$4,38 atau setara dengan Rp50 ribu.

Namun, untuk menikmati secangkir kopi di Jakarta, uang yang dihabiskan sebesar 1,12 persen dari gaji rata-rata penduduk Indonesia, sedangkan di Hong Kong hanya memotong sekitar 0,28 persen gaji rata-rata mereka. Dengan demikian, secangkir kopi di Jakarta 75 persen relatif lebih mahal dari kopi di Hong Kong jika ditinjau dari faktor gaji.

Standar hidup mahal juga bisa dilihat di bioskop. Pada malam Minggu di Jakarta, tiket nonton yang dijual sekitar US$4,24 atau setara dengan Rp50 ribu, sedangkan New York memasang harga US$32,63 atau setara dengan Rp373 ribu. Jika ditinjau dari faktor pendapatan, menonton bioskop di New York lebih murah 73 persen daripada menonton di Jakarta.

Dari segi fasilitas internet, Jakarta memasang tarif lebih mahal dibandingkan dengan kota-kota lain. Paket internet broadband terbaik di Jakarta memiliki kapasitas kecepatan 100 Mbps, harganya sekitar US$252,46 atau setara dengan Rp2,97 juta. Sedangkan di Hong Kong, dengan kemampuan 10 kali lipat yakni 1000 Mbps, harganya 3 kali lipat lebih murah yakni US$77,06 atau setara dengan Rp880 ribu.

Mahalnya standar hidup juga terlihat dari tarif menginap di hotel berbintang, juga harga yang dipatok untuk makanan cepat saji, pakaian bermerek, ponsel pintar dan keanggotaan gym.

"Namun perlu diingat bahwa produk di atas umumnya dikonsumsi oleh masyarakat golongan menengah ke atas, faktor tingkat sosial mempengaruhi mahal atau murahnya suatu produk," kaya Domy Halim, Country Manager Ipsos Business Consulting Indonesia.

Survei ini dilakukan pada 21 Februari 2014 lalu untuk melihat standar hidup masyarakat Jakarta. Kota-kota lain yang menjadi pembanding diantaranya Hong Kong, New York, London, Bangkok, Shanghai, Mumbai, Tokyo, Paris dan Sydney.